Bertanggung jawab #1 Menjadi Pribadi yang Bertanggung Jawab

Ada orang begitu mudah melempar tanggung jawab, dan melihat orang lain menjadi korban dari apa yang seharusnya ia lakukan.

  • Mengapa kita perlu bertanggung jawab

Tanggung jawab adalah tahu dan melakukan apa yang Allah harapkan dan apa yang orang lain harapkan dari saya. Tanggung jawab adalah sesuatu yang harus kita lakukan agar kita menerima sesuatu yang dinamakan hak. Jika kita melalaikan tanggung jawab, maka kualitas dari diri kita mungkin akan rendah. Untuk itu, tanggung jawab adalah suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan, karena tanggung jawab menyangkut orang lain dan terlebih diri kita.


Kita bertanggung jawab atas setiap pikiran, perkataan, sikap dan tindakan kita secara pribadi. Semua ini harus konsisten dengan perintah Kristus karena pada hari penghakiman itu semua akan dinyatakan dana dihakimi berdasarkan kasih yang murni.

Kehidupan manusia tidak lepas dari tanggung jawab, terlebih lagi bagi orang dewasa. Semakin banyak peran yang dimainkan seseorang, semakin berderet pula daftar tanggung jawab yang harus dipenuhinya. Banyak pria yang harus berperan sekaligus sebagai ayah, suami, direktur, majelis dan konsultan sekaligus. Tidak kurang pula wanita berperan sebagai ibu di rumah, namun sekaligus pula istri, manajer, dan pembina salah satu komisi di gereja.

Tanggung jawab adalah sesuatu yang harus kita lakukan agar kita menerima sesuatu yang di namakan hak. Tanggung jawab merupakan perbuatan yang sangat penting dilakukan dalam kehidupan sehari-hari,karena tanpa tanggung jawab,maka semuanya akan menjadi kacau. Sebagai contohnya,seorang pelajar mempunyai tanggung jawab belajar,sekolah,tapi karena ada ajakan teman yang tidak baik untuk bolos sekolah,maka seorang anak itu bisa saja melalaikan tanggung jawabnya untuk bolos sekolah. Jika kita melalaikan tanggung jawab,maka kualitas dari diri kita mungkin akan rendah. Maka itu, tanggung jawab adalah suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan,karena tanggung jawab menyangkut orang lain dan terlebih diri kita.

Bagaimanakah pandangan Alkitab soal tanggung jawab itu? sejak penciptaan Allah telah memberikan tanggung jawab kepada manusia untuk menguasai dan mengolah alam dan binatang-binatang yang ada. Manusia pertama, Adam, bukan saja ditempatkan di taman Eden yang indah untuk menikmati saja, tapi Allah juga memberi tugas dan tanggung jawab untuk mengerjakan tanah dan memelihara taman Eden (Kej 2:15) dan juga menamai binatang-binatang yang ada di taman Eden (Kej 2:19,20). Jadi, manusia diciptakan dengan kodrat dasar untuk bertanggung jawab. Manusia yang bertanggung jawab, itulah yang dikehendaki Allah.

Namun, kasus pertama manusia yang tidak bertanggung jawab juga adalah Adam, yakni saat ia sudah melanggar perintah Allah dan memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat.

Saat Allah bertanya, atau dengan kata lain meminta pertanggungjawabannya atas pelanggaran yang dilakukan, ia tidak berani mengakui kesalahannya, malahan mencari “kambing hitam” dengan cara menyalahkan istrinya yang seharusnya dilindunginya. Sejak itulah dosa “tidak bertanggung jawab” terjadi secara turun-temurun hingga masa kita.

Menurut pengamatan, telah terjadi krisis tanggung jawab di zaman ini. Di sekolah misalnya, murid yang tidak belajar sewaktu ulangan tetap tenang saja mengambil jalan pintas dengan menyontek. Remaja putri yang mengalami “kecelakaan” dihamili oleh pacarnya mengalami derita berganda karena ditinggal pasangannya. Suami yang tidak bekerja “memeras” istrinya yang harus membanting tulang di rumah untuk mengurus rumah tangga sekaligus bekerja di luar rumah untuk menghidupi seluruh keluarga. Ibu-ibu menyerahkan tanggung jawabnya merawat anak pada pembantu atau baby sitter, sedangkan sang ibu sibuk bershopping ria dari mall ke mall. Dalam dunia kerja, kita bahkan dapati karyawan yang tidak bertanggung jawab dalam tugas, baik dalam hal absensi kehadiran maupun jam kerja. Di tingkat pejabat sekalipun, kita dapati realita yang tidak jauh berbeda. Demikianlah sebagian realita kehidupan yang diwarnai oleh krisis tanggung jawab.

Dari mana munculnya Rasa Tanggung Jawab? Tidak secara otomatis setiap anak tumbuh dan langsung memiliki rasa tanggung jawab. Rasa tanggung jawab harus dipupuk dan dibina semasa pertumbuhan. Boleh dikatakan bahwa setiap masa kehidupan memiliki tigas perkembangan tersendiri. Jika tugas tersebut tidak terselesaikan, maka tugas perkembangan tahap selanjutnya akan terhambat. Untuk itu, keluarga memiliki peran penting untuk menumbuhkan rasa bertanggung jawab kepada anak sejak dini sesuai tahap perkembangannya dan kemampuannya.

  • Mengapa orang sulit bertanggung jawab
    • Diajarkan /diwariskan, orang-orang tua yang lepas tanggung jawab secara sadar akan mencontohkan sifat itu kepada anak-anaknya. Orang tua yang tidak bertanggung jawab secara fungsi akan ada kecenderungan memiliki anak-anak yang mengalami kesulitan untuk bertanggung jawab.
    • Luka, pengalaman yang menyakitkan dalam bertanggung jawab dapat membuat luka dalam diri seseorang. “Aku harus membantu orang tuaku untuk membantu adik-adikku”, “Biarlah mereka tidak melakukan tetapi aku harus melakukannya”.
    • Kebutuhan, orang-orang yang mengalami kesulitan bertanggung jawab karena merasa ada kebutuhan yang lebih penting dan mendesak. Hal ini tanggung jawab menjadi pertimbangan antara untung dan rugi
  • Dalam hal apa orang ada kecenderungan menghindari tanggung jawab
    • Zona Nyaman

      Seseorang yang merasa nyaman sering kali tidak mau untuk mengambil tanggung jawab karena alasan ini. Misalnya seseorang yang merasa kesulitan untuk membuang kesenangan pribadi yang dapat menjadi batu sandungan bagi saudara yang lemah.

    • Ada resiko dan Konsekwensi

      Anda tidak dapat lari dari tanggung jawab esok hari dengan menghindarinya hari ini – Abraham Lincoln.

      Tanggung jawab adalah melakukan apa yang harus saya lakukan sekalipun saya tidak ingin melakukannya.

  • Menurut Firman Tuhan

    “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada ALLAH.” (Roma 14:12)

    Ibrani 4:13 mempertegas lagi hal ini, yaitu: bahwa segala sesuatu terbuka di hadapan TUHAN dan kepadaNya kita harus mempertanggung-jawabkan segala hal yang kita lakukan dalam hidup kita.

    1 Peter 3:15 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,

    • Tanggung jawab atas pikiran

      2 Corinthians 10:5 Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,

    • Tanggung jawab atas perkataan

      Matthew 12:36-37 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. 37 Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”

    • Tanggung jawab atas tindakan

      2 Corinthians 5:10 Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.

    • Tanggung jawab atas sikap

      Psalm 34:13 Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;

    • Tanggung jawab atas motivasi

      Jeremiah 17:10 Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”

  • Langkah2 praktis Menjadi Pribadi yang Bertanggung Jawab
    • Kembangkan sikap percaya diri.
      Rasa percaya diri berkembang saat seseorang mulai mengenali kemampuannya, mendapat kesempatan dan kepercayaan untuk melakukan apa yang mampu ia kerjakan sendiri, dan memperoleh penghargaan dari orang lain atas apa yang sudah ia kerjakan.
    • Miliki sikap disiplin.
      Tanggung jawab juga berhubungan erat dengan disiplin. Hal yang penting dalam disiplin adalah peraturan, konsistensi, dan imbalan/hukuman. Jadi saat kita menjadi orang yang taat pada peraturan, bertindak konsisten, inilah namanya bertanggungjawab
    • Tidak menyalahkan orang lain

      Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

    • Bersikap
      optimis

      Orang yang bersikap optimis selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan drpd keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dsb.

    • Biasakan berkata-kata dengan jujur

      Jika kita menjadi orang yang jujur, maka itu membuktikan bahwa kita adalah orang yang bertanggungjawab dan dapat dipercaya orang lain

    • Menepati janji

      Ketika kita membuat janji dengan orang lain, usahakan tepati janji. Dari situ orang akan mengetahui betapa bertanggungjawabnya kita

About Theo sahara

Alumni Jurusan Konseling Kristen (IAT Bandung 2008)

Posted on 14/04/2011, in Time To Share and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: