Pertanyaan: Apatis dalam bertumbuh

Tanya:
Hallo Mr.Atanta. Saya menemukan adanya pola yang di
bangun si iblis setelah seseorang dilayani.Satu contoh seorang jika
punya masalah bingung lalu diam, dia tidak melakukan apa-apa; ternyata
iblis bawa lebih jauh lagi yaitu bosan. Pola itu saya temukan pada konseli yg kami layani. Kenyataanya jika orang itu sudah 20 tahun hidup
dengan pola itu, dan sekarang ia jatuh miskin, bagaimana tindakan kita?
(Yohanes Sat C., Semarang)

Jawab:
Saya biasanya mengaitkannya dengan orang lumpuh di Kolam Bethesda (Yoh 4) yang sudah
38 tahun menderita. Ketika bertemu dengannya, yang Yesus tanyakan adalah, “Maukah engkau sembuh”. Bapa-bapa gereja memberi nama acedia (mati rohani) untuk kondisi yang sangat parah. Dalam hal ini yang
perlu dilayani adalah kemauannya untuk pulih. Caranya:

  • Bangun hubungan dengan konseli sehingga ia memiliki kepercayaan kepada kita
  • Memperlihatkan kepadanya apa yang sudah hilang darinya, dan apa yang mungkin bisa ia dapakan jika ia mau berubah
  • Dorong dia untuk mengambil keputusan-keputusan yang penting dalam hidupnya
  • Dorong dia untuk memikirkan hal apa yang disukainya, atau membuatnya antusias
  • Kabarkan bagaimana Yesus rindu menolong orang-orang yang sudah jauh dari Tuhan
  • Berdoa agar Tuhan memulihkan kehendaknya yang sudah lama mati
  • Dalam beberapa kasus kita harus mendoakan secara peperangan rohani, dan mengikat kuasa-kuasa yang selama ini membelenggu kehendaknya


Tanya:
Saat ini konseli sudah di layani, dan dia sekarang sudah bisa memanggil papahnya
dengan “Papah”. Tetapi jika seorang papah tidak bisa berubah bagaiman ?
Apa yang harus dia perbuat untuk mempertahankan hati dan perasaanya yang
sudah di perbaharui?

Jawab:
Beberapa prinsip:

  1. Kita tidak bisa mengubah orang lain. Orang akan
    berubah dalam kehendaknya sendiri. Bagian kita adalah merubah apa yang
    harus dirubah menurut kehendak Tuhan
  2. Pemulihan kita adalah
    proses. Kemungkinana kalau seseorang sangat melukai hati kita, butuh
    beberapa waktu sebelum kita bisa betul-betul memulihkan hati kita.
    Jangan kaget kalau justru Tuhan akan perlihatkan hal-hal baru yang
    perlu dibereskan antara konseli dengan papanya.
  3. Kalau kita
    berada dalam hubungan yang terus-menerus melukai kita, bagaimana? Dalam
    hal tema kasih karunia Allah bagi kita (dan orang yang melukai kita)
    akan menjadi tema penting yang perlu kita alami secara nyata.
    Pengampunan yang terus-menerus perlu terjadi. Kadang-kadang kita perlu
    memberi batas, agar orang tidak terus melukai. Kadang2 kita sendiri
    terluka dan melukai orang lain…

About paulpla

Follower of The Way, Husband of 1 & Dad of 2, Counsellor & Coach, passionate about growing together. Visit kawantumbuh.com

Posted on 17/12/2008, in Pertanyaan, Trauma and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: