Renungan: Waktunya Siapa?

           Beberapa kali ketika saya melayat-upacara penguburan, saya mendengar ayat penghiburan dari Pengkhotbah 3:1, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya”. Saya sangat diberkati, dan saya melihat bahwa ayat ini berbicara lebih dari konteks penghiburan dalam suatu upacara penguburan. Saya mulai berpikir, “Sekarang sebenarnya Tuhan memberikan waktu apa kepada saya, karena jelas bahwa jika segala sesuatu ada waktunya, maka ada juga nanti waktu yang berlalu dan tidak pernah kembali”.

           Kepekaan sesorang untuk mengerti masa apa yang Tuhan kehendaki dalam kehidupannya menjadi sesuatu yang sangat penting karena:
1. Jika kita mati-matian mengerjakan sesuatu yang ternyata itu bukan waktunya Tuhan,  maka kita menghabiskan waktu dan energi yang sangat banyak hanya untuk sebuah kegiatan yang “sia-sia”.
2. Masa yang diberikan Tuhan mungkin bisa saja sepertinya berulang namun kualitasnya pasti berbeda.
3. Kita akan semakin banyak membuang keefektifan diri kita untuk meraih suatu impian atau Visi.
4.Kalau segala sesuatu kita sadari ada masanya maka jika kita tidak peka terhadap masanya Tuhan maka kita sama saja dengan orang yang menunda atau bahkan melewatkan berkat luarbiasa yang sebenarnya Tuhan siapkan bagi kita.

           Bagaimana kita dapat melatih kepekaan terhadap masa Tuhan? Langkah pertama, bertanya kepada Tuhan hal apa di dalam diri kita yang selama ini kita masih pegang teguh seperti pendirian, kepandaian, keahlian kita yang ternyata menghalangi kita untuk mengerti masa Tuhan. Kedua, membereskan luka-luka, penghakiman, kemarahan, kepahitan yang masih dipendam dalam diri kita. Ketiga bertanya kepada Tuhan, masa apakah yang Ia siapkan bagi kita.

           Bagi kebanyakan orang, yang paling sulit adalah poin pertama dan kedua. Dalam pengalaman pelayanan kami, seseorang dapat memiliki prinsip yang hebat dalam hidupnya atau memiliki banyak pengetahuan di dalam hidupnya, namun datangnya dari luka di masa lalu seperti keinginan balas dendam kepahitan dan lain-lain. Orang itu mungkin akan semakin berhasil dengan prinsip dan pengetahuannya, namun seringkali jika prinsip itu didasari luka, maka ia akan sulit menikmati damai sejahtera Tuhan semasa hidupnya.

           Fakta mengatakan bahwa betapa banyak orang yang memiliki “segalanya dalam hidupnya” namun kehilangan damai sejahtera? Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?-Lukas 9:25. Jelas disini yang menjadi ukurannya adalah masa Tuhan. Mungkin secara dunia orang melihat kita tidak memperoleh apa-apa tetapi jika kita melakukannya pada masa Tuhan, maka hasilnya akan sangat luar biasa.

           Apakah saudara tahu masa apa yang Tuhan kerjakan dalam diri saudara? Mungkin masanya untuk berubah, mungkin masanya untuk bertumbuh, mungkin masanya menemukan visi, mungkin masanya rekonsiliasi atau untuk hal-hal yang lain. Bertanyalah kepada Tuhan dengan membuang terlebih dahulu penghambat yang membuat kita tidak bisa “connect“dengan Dia.

Ditulis oleh
Pdt Jonedi Ginting

Posted on 18/02/2009, in Renungan, Training and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: