Renungan: Ya Tuhan, nasibku kok sama?

             Ya Tuhan, apakah nasibku sama juga dengan orang lain ? Ya Tuhan, mengapa ini terjadi dalam diriku? Apakah pertanyaan ini akan menjadi pemikiran kita ketika kita membaca Pengkotbah 9 :1-2 “Sesungguhnya, semua ini telah kuperhatikan, semua ini telah kuperiksa, yakni bahwa orang-orang yang benar dan orang-orang yang berhikmat dan perbuatan-perbuatan mereka, baik kasih maupun kebencian, ada di tangan Allah; manusia tidak mengetahui apapun yang dihadapinya. Segala sesuatu sama bagi sekalian; nasib orang sama: baik orang yang benar maupun orang yang fasik, orang yang baik maupun orang yang jahat, orang yang tahir maupun orang yang najis, orang yang mempersembahkan korban maupun yang tidak mempersembahkan korban”.

             Sebagaimana orang yang baik, begitu pula orang yang berdosa; sebagaimana orang yang bersumpah, begitu pula orang yang takut untuk bersumpah. Sebenarnya ayat ini mengatakan kepada kita bahwa semua manusia akan mati, baik pintar atau bodoh, mengenal Tuhan ataupun tidak, berhikmat atau tidak, boros atau tidak dan seterusnya. Tetapi, tahukah saudara bahwa ayat ini membawa kita kepada satu realita bahwa walaupun kita semua akan mati tetapi ada yang tidak akan mati yaitu perubahan yang kita lakukan dalam hidup kita, atau daftar riwayat hidup apa yang sudah kita lakukan dalam hidup ini.

             Thomas Alfa Edison sudah meninggal, Einstein sudah tidak ada dan banyak lagi tokoh-tokoh lain yang karyaNya sampai hari ini masih kita nikmati. Pernahkah kita berpikir bahwa benar nasib semua orang sama yaitu akan mendapat warisan 2 X 1 m “(dikubur)”? Namun apakah kita bisa mengubah generasi yang masih hidup nantinya atau mengubah anak cucu kita nantinya? Pasal 9 ini diakhiri pengkhotbah dengan satu cerita bahwa hikmat lebih baik dari pada keperkasaan (ayat 16).
            
             Digambarkan dalam cerita ini, orang yang tidak diperhitungkan oleh dunia ini justru  jauh lebih berpengaruh pada masa depan daripada seorang raja agung. Perbedaannya terletak pada hikmat. Hikmatlah yang akan kekal sampai kepada anak cucu kita, hikmatlah yang mempengaruhi generasi kita dan generasi yang akan datang, hikmatlah yang akan mengubah satu bangsa. Apakah kita sudah berhikmat, atau apa yang sudah kita lakukan dengan hikmat? Kalau kita melayani Tuhan, itu baik; kalau kita berpuasa, itu baik; kalau kita menolong orang itu pun baik; namun jika kita lakukan tanpa hikmat maka hasilnya tidak akan baik atau tidak akan maksimal.

             Pada waktu  nanti malaikat Tuhan menjemput kita, hikmat apa yang kita tinggalkan bagi generasi ini? Perubahan apakah yang sudah kita buat dalam hidup orang lain? Perubahan apakah yang sudah kita buat dalam gereja? Perubahan apakah yang sudah kita buat dalam lingkungan sekitar, ataupun untuk bangsa ini dengan hikmat?

oleh Pdt. Jonedi Ginting

Posted on 18/02/2009, in Renungan, Training and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: