Renungan: Bertanggung jawab dengan karunia rohani

Karunia rohani adalah pemberian Allah kepada setiap orang percaya yang dikehendakiNya dengan jenis karunia yang berbeda-beda. Dan jangan lupa bahwa ini karunia artinya Tuhan berhak untuk memberi kepada siapa Dia mau dan juga berhak mengambil. Bahkan seringkali menurut pemandangan kita orang tersebut tidak layak menerimanya namun Tuhan memberikan kepada dia. Ini perlu dipahami secara benar supaya nanti tidak terluka kepada Tuhan.

Kegunaan dari sebuah karunia adalah untuk membangun tubuh Kristus dalam sebuah komunitas orang percaya. Kalau ada karunia yang kemudian memecah tubuh Kristus menurut Firman Tuhan diatas berarti dipertanyakan. Oleh karena itu bagi siapapun yang memiliki karunia ini diharapkan dapat menerimanya dengan rendah hati. Fokus dari sebuah pelayanannya harus saling ada ketergantungan dengan para pemilik karunia rohani yang lain. Sebab setiap karunia berguna untuk saling melengkapi juga saling menutupi diantara karunia yang berbeda. Dan karunia satu dengan yang lain bukan tandingan, dan tidak ada karunia yang satu besar dan yang satu kecil. Sehingga karunia rohani bukan “alat” menyombongkan diri dan juga bukan membuat orang iri. Karunia rohani juga bukan ukuran kerohanian jadi karunia rohani benar-benar diterima dengan segala
kerendahan hati. Karunia rohani bukan juga alat saling melukai bahkan bukan untuk “mengancam” sesorang sehingga dia merasa terpojok. Karunia rohani juga bukan alat untuk memanipulasi Tuhan, atau bukan sebagai alat “pembenaran diri” mengatasnamakan Tuhan.

Kesombongan dalam diri seseorang karena sebuah karunia yang ia miliki membuat ia bukan suatu tubuh atau bagian dari sebuah tubuh Kristus. Hal semacam ini membuat ia menjadi lupa akan tanggungjawabnya terhadap karunianya dan juga terhadap anggota tubuh yang lain. Dan yang menjadi ukuran utama adalah karunia itu benar-benar pemberian sehingga setiap orang berhak meminta dan berhak juga menerima, dan karunia yang diberikan oleh Tuhan harus dipakai sesuai dengan rancangan Tuhan. (oleh Pdt. Jonedi Ginting, M.A)

Posted on 04/06/2009, in Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: