Kesaksian SOH

Ibu Emi (Istri Gembala)

resize-of-emi2Saya termasuk orang PO (Performance Orientation) karena semua luka yang saya alami. Selama ini saya tidak menyadari bahwa saya hidup dalam mekanisme pertahanan diri yang cukup kuat, sehingga susah sekali bagi untuk mengungkapkan perasaan. Saya menjadi orang yang yang sering mengeraskan hati, misalnya ketika bertemu orang lain yang tidak dikenal, saya akan cenderung cuek karena merasa tidak membutuhkan orang lain. Tetapi melalui SOH ini saya jadi mengetahui bahwa prinsip hidup yang saya bangun ternyata adalah sebuah bentuk mekanisme pertahanan yang harus diruntuhkan.  Saya juga disadarkan bahwa saya menjadi PO terbentuk karena situasi dan krisis dalam keluarga.  Puji Tuhan… karena Dia memulihkan saya melalui dua hal, pertama: melalui suami saya. Kedua, melalui SOH, saya dikuatkan untuk hidup dalam kasih karunia.  Saya berasal dari GKJ (Gereja Kristen Jawa) dan saya sangat yakin bahwa model pelayanan pemulihan seperti ini (PPT) sangat bisa diterapkan di tempat pelayanan kami.  Terima kasih semuanya.

Bp. Nata (Pengusaha)

resize-of-nataMemulai kesaksian, saya harus berkata bahwa sebenarnya saya orang yang paling takut untuk berdiri di depan.  Tetapi kalau saya berdiri saat ini untuk bersaksi, saya merasa ”plong” karena ternyata saya bisa melalui hal yang menakutkan ini.  Saya orang yang terbiasa melakukan mekanisme pelarian,  cuek dan tidak peduli. Di sini saya belajar banyak untuk hidup dalam kasih karunia dan identitas yang benar dalam Tuhan. Teman-teman saya di Full Gospel sudah bertanya, ”apa yang kamu dapat di SOH?”  Saya sangat rindu untuk membagikan apa yang saya dapat di sini kepada mereka dalam pertemuan-pertemuan kami setiap hari senin dan juga melayani orang lain.

Ibu Rosalia (Pengerja GBI Rumah Pujian Yogyakarta)

resize-of-rosaSaya datang ke acara SOH ini karena ditunjuk oleh gereja.  Saya pernah dilayani pelepasan dan saya merasa sudah beres, namun saya berpikir tidak salah dan ada baiknya untuk mengikuti SOH ini untuk menambah bekal pelayanan. Tetapi setelah mengikuti SOH ini saya menjadi kaget. Memasuki sesi pertama saya bertanya, ”saya kok begini?” dan sesi demi sesi saya merasa ’kena’ dengan pengajarannya.  Ternyata saya orang penuh dengan ’karung’ atau sampah-sampah, antara lain penghakiman-penghakiman, penipuan.  Di sini, di SOH ini, Tuhan memakai para fasilitator dan pengajar untuk menunjukkan dan membongkar  serta membuang sampah-sampah dalam hidup saya.

Pdt. Is Subari (GKJ Tamansari  Sragen)

is-subariPuji Tuhan, ada keserupaan dalam kelompok kecil kami.  Kelompok kecil kami adalah kelompok “tidak percaya diri.”  Saat fasilitator bertanya, “sesi apa yang paling berkesan,” saya menjawab “bagi saya sesi yang paling berkesan adalah sesi “Back to the womb.” Ketika berdoa back to the womb, saya tidak merasakan apa-apa mulai dari pembuahan hingga bulan ke delapan.  Namun, memasuki bulan ke sembilan, ada sesuatu yang aneh dan membuat saya tidak nyaman untuk duduk.  Tuhan membawa saya pada ingatan masa ketika saya dilahirkan.

Berbagai kondisi yang cukup sulit mengiringi pertumbuhan saya. Tuhan terus mengingatkan hal-hal tersebut dengan jelas sehingga akar-akar “rasa tidak percaya diri” itu mulai terlihat satu persatu. Saya bersyukur bahwa Tuhan telah menunjukkannya dan kemudian membereskannya dalam doa-doa di kelompok kecil.

Ibu Sara Lely (Istri Gembala)

sara-lelySetelah mengikuti level I saya diperhadapkan pada banyak kasus di pelayanan. Hal ini sangat mendorong saya untuk menerapkan prinsip-prinsip dan langkah-langkah pelayanan dari Duta Pembaharuan dan yang saya pelajari dalam kelompok kecil. Salah satu masalah yang Tuhan ijinkan untuk dilayani adalah orang yang datang dengan masalah karena pengalaman traumatis.

Di level II, Tuhan menunjukkan akar ketertolakan saya melalui sesi dan doa back to the womb dan semakin diyakinkan lagi melalui sesi penolakan. Dampak dari pengalaman itu adalah saya menjadi orang yang berorientasi pada kerja (PO).  Tuhan menunjukkan kepada kami ketika berdoa, saya melihat seorang bayi yang menangis dan Ia menunjukkan perasaan ketidaklayakan dan tidak berharganya saya.  Tuhan meyakinkan kelayakan dan berharganya saya dalam doa melalui suatu penglihatan, dimana saya seperti melihat Tuhan ada di ruang lab dan memakai baju lab.  Ia menunjukkan keadaan saya dalam bentuk telur dan memberkati, kemudian menaruh telur itu dalam rahim ibu.  Saya menjadi kagum  begitu besar kasih Tuhan pada saya.  Ketika berdoa back to the womb, mulai dari masa pembuah an hingga bulan ke dua  saya merasa takut dan jantung berdebar-debar.

Memasuki bulan ke tiga dan seterusnya tidak ada apa-apa, namun begitu memasuki masa persalinan, saya merasa seperti ada tawar menawar dengan Tuhan, saya tidak mau keluar karena takut merepotkan orang lain namun Tuhan meyakinkan untuk keluar bahkan tangan Tuhan sendiri yang menolong saya untuk keluar. Sungguh luar biasa bahwa setiap bulan Tuhan menunjukkan hal-hal yang ternyata menjadi akar masalah dalam hidup saya selama ini dan puji Tuhan karena Ia begitu baik serta menolong saya untuk melihat tema dan dinamika kehidupan saya.  Pemulihan suatu bangsa harus dimulai dengan pemulihan gereja.

Pdt. Niko Jalmav (GBI Rumah Pujian Yogyakarta)

nico

Apa yang saya mau saksikan adalah pengalaman setelah level I.Di level I,sesi pembuka yang membahas Syarat Pertumbuhan adalah sesi yang sangat memberkati saya.  Dalam sesi tersebut dibahas mengenai  syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang konseli agar bertumbuh secara maksimal, antara lain: adanya kehendak, keterbukaan, kerendahan hati dan pertobatan yang sungguh-sungguh.  Secara khusus pembahasan tentang perlunya keterbukaan kepada Tuhan maupun kepada sesama. Saya merasa sebagai hamba Tuhan umumnya selalu menjaga “image” agar terlihat “BBS atau baik-baik saja.”  Keterbukaan adalah sesuatu yang susah untuk dilakukan.  Saya semakin diberkati ketika dalam pelayanan  harus menyampaikan topik keterbukaan.  Dalam pelayanan itu saya membuka dan menceritakan “aib” dari masa kecil hingga sekarang melayani Tuhan. Dan ketika saya membuka hidup saya ada sesuatu yang luar biasa terjadi yakni orang lain justru diberkati dan makin menghormati. Saya disadarkan bahwa ketika kita tertutup dan tidak membuka diri, saat itulah berkat Tuhan juga tertutup. Setelah mengikuti Level II ini saya makin dibukakan tentang kehidupan saya dan mengingatkan bahwa masih banyak PR (pekerjaan rumah) yang harus diselesaikan agar saya makin bertumbuh dalam Tuhan.

Pdt.Marthinus Sumendi(Gereja Baptis Ngadinegaran Yogyakarta)

marthinusPola Yang Diubahkan.Saya berasal dari denominasi dimana doktrin menjadi salah satu hal yang sangat berpengaruh bagi kami untuk mengikuti suatu seminar atau pelatihan. Ketika saya mendengar kabar mengenai SOH  dari jemaat saya, saya merasa penasaran, apa sih yang dibahas dalam SOH ini? Katanya ada sesuatu yang berbeda.

Kemudian saya datang dengan mantap, dengan satu tujuan, yaitu untuk mencari bahan yang bisa menambah untuk menghakimi. Namun setelah saya datang ke sini, semua justru malah berbalik arah, sayalah yang banyak terhakimi. Bukan oleh manusia, namun saya yakin bahwa inilah cara Tuhan yang dilakukan melalui orang-orang yang dipilih dalam pelayanan ini.

Banyak hal yang dibahas dalam seminar ini yang mengingatkan saya mengenai hubungan-hubungan yang penting, seperti hubungan keluarga. Saya merasa bahwa disini Tuhan sedang menantang saya untuk berubah. Ada hal-hal yang perlu saya ubah dalam pola pikir saya dan saya berharap bahwa hal ini dapat menjadi berkat bagi semua, baik keluarga maupun jemaat yang saya layani. Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: